Ekonomi & Moneter

Memahami BI-Rate dan Pengaruhnya ke Dompet Kita

Setiap bulan, Bank Indonesia memutuskan satu angka yang jarang jadi perbincangan di meja makan, padahal ia ikut menentukan bunga cicilan, bunga tabungan, bahkan harga barang di sekitar kita.

Gedung bank modern di pusat kota
Keputusan suku bunga acuan menjadi salah satu kebijakan paling berpengaruh bagi perekonomian. Foto: Pexels.

Apa itu BI-Rate?

BI-Rate adalah suku bunga kebijakan (acuan) yang ditetapkan Bank Indonesia sebagai instrumen utama kebijakan moneter. Angka ini diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar setiap bulan, dan menjadi sinyal ke seluruh sistem keuangan tentang arah kebijakan: apakah uang sedang “dimahalkan” untuk menahan inflasi, atau “dimurahkan” untuk mendorong pertumbuhan.

Pada RDG 22–23 September 2026, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75%, angka yang bertahan sejak Mei 2026. Dua suku bunga pendampingnya juga tetap: deposit facility 4,75% dan lending facility 6,50%.

5,75%BI-Rate (acuan)
4,75%Deposit facility
6,50%Lending facility

Bagaimana satu angka bisa berdampak luas?

BI-Rate bekerja lewat mekanisme yang disebut transmisi kebijakan moneter. Alurnya kira-kira begini:

  • BI-Rate memengaruhi bunga antarbank, biaya bank meminjam dana satu sama lain.
  • Dari situ, bank menyesuaikan bunga deposito dan bunga kredit mereka.
  • Bunga kredit yang lebih tinggi membuat masyarakat dan dunia usaha lebih berhati-hati meminjam dan berbelanja, permintaan melambat.
  • Permintaan yang terkendali membantu menjaga inflasi dan menstabilkan nilai tukar rupiah.
Menaikkan atau menahan suku bunga adalah soal keseimbangan: menjaga harga tetap stabil tanpa mematikan pertumbuhan.

Kenapa BI menahan di 5,75%?

Menurut Bank Indonesia, keputusan mempertahankan suku bunga ini bertujuan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian dan gejolak global, sekaligus menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 agar tetap berada di kisaran sasaran sekitar 2,5%. Dengan kata lain, BI memilih bersikap hati-hati: menjaga rupiah dan harga tetap terkendali sambil tetap memberi ruang bagi pertumbuhan ekonomi.

Apa artinya untuk kita sehari-hari?

  • Cicilan dan KPR. Ketika suku bunga acuan tinggi, bunga kredit cenderung ikut tinggi, cicilan rumah atau kendaraan bisa terasa lebih berat.
  • Tabungan dan deposito. Sisi baiknya, bunga simpanan dan deposito juga cenderung lebih menarik saat suku bunga tinggi.
  • Harga barang. Dengan inflasi terjaga di sekitar 2,5%, daya beli masyarakat lebih terlindungi dari kenaikan harga yang liar.
  • Nilai rupiah. Stabilitas nilai tukar membuat harga barang impor, dari gawai sampai bahan baku, lebih dapat diprediksi.

Intinya: BI-Rate bukan sekadar angka untuk ekonom. Ia menyentuh keputusan nyata, kapan mengambil KPR, menaruh uang di deposito, atau menunda pembelian besar.

Penutup

Memahami BI-Rate membantu kita membaca arah ekonomi dengan lebih tenang. Memahami hal seperti ini membuat kita lebih siap dan percaya diri dalam mengambil keputusan keuangan sehari-hari, dari memilih produk tabungan hingga merencanakan cicilan.

Sumber

  1. Bank Indonesia, Ruang Media / News Release Dewan Gubernur. bi.go.id
  2. Media Indonesia, “BI Pertahankan Suku Bunga Acuan 5,75 Persen di September 2026.” mediaindonesia.com
  3. Investor.id, “BI-Rate Dipertahankan 5,75% pada Juli 2026.” investor.id
  4. Tempo, “Bank Indonesia Tahan Lagi BI Rate.” tempo.co
  5. Perbanas, Infografis “Update BI Rate.” perbanas.org
Riska Adinda Utami

Riska Adinda Utami

Menulis catatan ringan berbasis data resmi seputar perbankan, keuangan, dan ekonomi, Indonesia maupun dunia. · Terhubung di LinkedIn

👁 0 kali dibaca

Komentar

0 komentar

← Kembali ke beranda